You Are Here » Berita

PERIJINAN RUMAH SAKIT BERDASRKAN PERMENKES NO 56 TAHUN 2014


Berikut ini adalah cuplikan dari Permenkes No 56 Tahun 2014, tentang persyaratan perizinan RS, semoga bermanfaat bagi pembaca:

BAB IV
PERIZINAN RUMAH SAKIT

Bagian Kesatu
Jenis Izin

Pasal 63

(1)    Setiap Rumah Sakit wajib memiliki izin.
(2)    Izin Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas Izin Mendirikan dan Izin Operasional.
(3)    Izin Mendirikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan oleh pemilik Rumah Sakit.
(4)    Izin Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan oleh pengelola Rumah Sakit.

Pasal 64

(1)    Izin Mendirikan dan Izin Operasional Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah provinsi.
(2)    Menteri mendelegasikan pemberian Izin Mendirikan dan Izin Operasional RS kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing kepada Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan perumahsakitan.
(3)    Menteri mendelegasikan pemberian Izin Mendirikan dan Izin Operasional RS kelas B penanaman modal dalam negeri kepada pemerintah daerah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah kabupaten/kota.
(4)    Menteri mendelegasikan pemberian Izin Mendirikan dan Izin Operasional Rumah Sakit kelas C dan Rumah Sakit kelas D penanaman modal dalam negeri kepada pemerintah daerah kabupaten/kota setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah kabupaten/kota.
(5)    Izin Mendirikan dan Izin Operasional Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah kabupaten/kota.
(6)    Izin Mendirikan dan Izin Operasional Rumah Sakit kelas C dan Rumah Sakit kelas D, diberikan oleh kepala Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah kabupaten/kota.

Pasal 65

Rumah Sakit penanaman modal asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) merupakan Rumah Sakit dengan pelayanan spesialistik dan subspesialistik.

Bagian Kedua
Izin Mendirikan

Pasal 66

(1)    Izin Mendirikan diberikan untuk mendirikan bangunan baru atau mengubah fungsi bangunan lama untuk difungsikan sebagai Rumah Sakit. 
(2)    Pendirian bangunan dan pengalihan fungsi bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dimulai segera setelah mendapatkan Izin Mendirikan.
(3)    Izin Mendirikan diberikan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun dan hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun.
(4)    Perpanjangan Izin Mendirikan diperoleh dengan mengajukan permohonan selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum jangka waktu Izin Mendirikan berakhir dengan melampirkan Izin Mendirikan. 

Pasal 67

(1)    Pemilik atau pengelola yang akan mendirikan Rumah Sakit mengajukan permohonan Izin Mendirikan kepada pemberi izin sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit yang akan didirikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 secara tertulis dengan melampirkan: 
a.    fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali instansi Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
b.    studi kelayakan; 
c.    master plan;
d.    Detail Engineering Design;
e.    dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan; 
f.    fotokopi sertifikat tanah/bukti kepemilikan tanah atas nama badan hukum pemilik rumah sakit;
g.    izin undang-undang gangguan (Hinder Ordonantie/HO); 
h.    Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
i.    Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
j.    rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit.
(2)    Studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan gambaran kegiatan perencanaan Rumah Sakit secara fisik dan nonfisik yang terdiri atas:
a.    kajian kebutuhan pelayanan Rumah Sakit yang meliputi:
1)    kajian demografi yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan penduduk serta karakteristik penduduk yang terdiri dari umur, jenis kelamin, dan status perkawinan;
2)    kajian sosio-ekonomi yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan, angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik rata-rata bruto;
3)    kajian morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan sekurang-kurangnya sepuluh penyakit utama, angka kematian (GDR, NDR), dan angka persalinan;
4)    kajian kebijakan dan regulasi, yang mempertimbangkan kebijakan dan regulasi pengembangan wilayah pembangunan sektor nonkesehatan, kesehatan, dan perumah sakitan.
5)    kajian aspek internal Rumah Sakit merupakan rancangan sistem-sistem yang akan dilaksanakan atau dioperasionalkan, yang terdiri dari sistem manajemen organisasi termasuk sistem manajemen unit-unit pelayanan, system unggulan pelayanan, tariff teknologi peralatan,  sistem tarif, serta rencana kinerja dan keuangan.
b.    kajian kebutuhan lahan, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, dan peralatan sesuai kriteria klasifikasi Rumah Sakit yang akan didirikan yang meliputi:
1)    Lahan dan bangunan Rumah Sakit harus dalam satu kesatuan lokasi yang saling berhubungan dengan ukuran, luas dan bentuk lahan serta bangunan/ruang mengikuti ketentuan tata ruang daerah setempat yang berlaku.
2)    Persyaratan lokasi meliputi :
a)    Tidak berada di lokasi area berbahaya (di tepi lereng, dekat kaki gunung yang rawan terhadap longsor, dekat anak sungai atau badan air yang  dpt mengikis pondasi, dekat dengan jalur patahan aktif/gempa, rawan tsunami, rawan banjir, berada dalam zona topan/badai, dan lain-lain).
b)    Harus tersedia infrastruktur aksesibilitas untuk jalur transportasi.
c)    Ketersediaan utilitas publik mencukupi seperti air bersih, jaringan air kotor, listrik, jalur komunikasi/telepon.
d)    Ketersediaan lahan parkir.
e)    Tidak berada di bawah pengaruh SUTT dan SUTET.
3)    rencana cakupan, jenis pelayanan kesehatan, dan fasilitas lain;
4)    jumlah, spesialisasi, dan kualifikasi sumber daya manusia; dan
5)    jumlah, jenis, dan spesifikasi peralatan mulai dari peralatan sederhana hingga peralatan canggih.
c.    kajian kemampuan pendanaan/pembiayaan yang meliputi:
1)    prakiraan jumlah kebutuhan dana investasi dan sumber pendanaan;
2)    prakiraan pendapatan atau proyeksi pendapatan terhadap prakiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur;
3)    prakiraan biaya atau proyeksi biaya tetap dan biaya tidak tetap terhadap prakiraan sumber daya manusia;
4)    proyeksi arus kas 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun; dan
5)    proyeksi laba atau rugi 5 (lima) sampai 10 (sepuluh) tahun.
(3)    Master plan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c memuat strategi pengembangan aset untuk sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun kedepan dalam pemberian pelayanan kesehatan secara optimal yang meliputi identifikasi proyek perencanaan, demografis, tren masa depan, fasilitas yang ada, modal dan pembiayaan.
(4)    Detail Engineering Design sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan gambar perencanaan lengkap Rumah Sakit yang akan dibangun yang meliputi gambar arsitektur, struktur dan mekanikal elektrikal sesuai dengan persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Menteri.
(5)    Dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas upaya pengelolaan lingkungan (UKL), upaya pemantauan lingkungan (UPL), atau analisis dampak lingkungan (AMDAL) berdasarkan klasifikasi Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6)    Izin undang-undang gangguan (hinder ordonantie/HO) dan/atau surat izin tempat usaha (SITU), dan izin mendirikan bangunan (IMB) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, huruf h, dan huruf i diperoleh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 68

(1)    Pemberi izin harus menerbitkan bukti penerimaan berkas permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi apabila berkas permohonan belum lengkap kepada pemilik atau pengelola yang mengajukan permohonan Izin Mendirikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas permohonan diterima.
(2)    Dalam hal berkas permohonan belum lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemohon harus mengajukan permohonan ulang kepada pemberi izin.
(3)    Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah bukti penerimaan berkas diterbitkan, pemberi izin harus menetapkan untuk memberikan atau menolak permohonan Izin Mendirikan. 
(4)    Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemberi izin dapat memperpanjang jangka waktu pemrosesan izin paling lama 14 (empat belas) hari kerja dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon.
(5)    Penetapan pemberian atau penolakan permohonan Izin Mendirikan dilakukan setelah pemberi izin melakukan penilaian dokumen dan peninjauan lapangan.
(6)    Dalam hal permohonan Izin Mendirikan ditolak, pemberi izin harus memberikan alasan penolakan yang disampaikan secara tertulis kepada pemohon.
(7)    Apabila pemberi izin tidak menerbitkan Izin Mendirikan atau tidak menolak permohonan hingga berakhirnya batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4), permohonan Izin Mendirikan dianggap diterima.



Pasal 69

Ketentuan mengenai tata cara proses pengajuan, penerimaan, penerbitan, dan penolakan Izin Mendirikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 dan Pasal 68 berlaku secara mutatis mutandis terhadap tata cara proses pengajuan, penerimaan, penerbitan, dan penolakan perpanjangan Izin Mendirikan.

« Kembali

Support Online

Konsultasi Terbaru

  • imelda natalia

    kami adalah distributor untuk pemasangan pintu Hermetic ruang operasirumah sakit dan automatic kaca untuk IGD. Apabila ada kemungkinan bisa kerjasama mhn dapat menghubuni kami di imelda_ptspm@yahoo.co ...

  • yosef

    selamat pagi, ijin konsultasi utk master plan klinik pratama. minimal luas lahan brp? dan kira2 perlu modal brp? tks ...

  • Khoirul Anwar

    Saya ingin mendirikan rumah sakit type D punya tanah 1 Ha. Untuk pertama kamar 50 dulu kira2 biaya mulai awal s/d operasional habis berapa ? ...

  • Asia Hasyim

    kami rs di daerah yang secara operasionalnya merupakan rumah sakit tipe C merencanakan membuat master PLan tipe B mohon informasi biaya pembuatan master plan dan konsultan yang sudah berpengalaman dal ...

  • Angin

    mendirikan rs gak segampang mendirikan rumah,jadi untuk bapak/ibu tolong mutu manajemennya betul-betul dijaga. ...

  • Andhi

    Saya memiliki rencana membangun ts tipe c.. mohon hubungi saya untuk perencanaan dan konsultasi ...

  • sukma

    Mohon perincian pembuatan dan observasi master plan untuk rumah sakit tipe D
    Terimakasih ...

  • dr. salman

    bpk /ibu konsultan ,saya punya lahan 6000 meter dam berencana akan membuat RS type D/C dengan jumlah bed 50-100 dahulu. mohon masukan apa yg awal harus saya lakukan dan kira-kira investasi yg dibutuhk ...

  • andi

    mohon info, hasil fs rumah sakit tlh dibuat, dlam lokasi sluas -5 Ha, tp dlm lokasi terdpt jaringan SUTET. bgmn solusix pak??? bukan kh SUTET berbahaya n bgmn pengaruh SUTET terhdp alkes?? ...

  • dokal

    Saya berencana mendirikan rumah sakit bersalin (RS tipe D), yakni khusus untuk penanganan wanita hamil dan melahirkan (tidak melayani pasien anak/bayi, kecuali yang baru lahir/rawat gabung). Apa saja  ...

Video